![]() |
Pertandingan mensur yang diadakan pada tahun 1888 |
Sebentuk pertarungan satu-lawan-satu - anggar mensur - telah menyebar di Jerman selama berlangsungnya abad ke-16 di antara golongan anak mudanya, terutama di komunitas terpelajar. Kata "mensur" sendiri diambil dari bahasa Jerman, Mensurfechten, yang artinya: bermain anggar di tempat terbatas/ditentukan. Kedua orang duelis memakai pelindung mata yang berjala baja untuk mata melihat. Dada dan bahu dipakaikan pelindung berbahan karet dan syal tebal. Senjata yang digunakan adalah anggar model "schlagers" yang mempunyai ujung mengerucut tajam. Kedua pihak yang berseteru saling berhadapan dan bergantian menyerang, dengan sasaran utama satu-satunya bagian tubuh yang tak terlindungi: wajah lawannya. Ketika kelelahan melanda atau ketika musuh dalam keadaan lengah, maka saat itulah kesempatan utama untuk menebaskan anggar ke wajah, dan akan meninggalkan bekas luka goresan yang biasanya bertahan seumur hidup!
Seperti orang bilang, sebuah codet akan menggambarkan karakter wajah dari orang yang mempunyainya. Hasil dari "pertempuran" semacam ini adalah tidak biasa bagi orang normal: Kedua pihak merasakan kepuasan, dimana sang pemenang puas karena menjadi kampiun, sedangkan yang kalah puas karena kini wajahnya telah "dihiasi" tanda lambang keberanian.
Seperti orang bilang, sebuah codet akan menggambarkan karakter wajah dari orang yang mempunyainya. Hasil dari "pertempuran" semacam ini adalah tidak biasa bagi orang normal: Kedua pihak merasakan kepuasan, dimana sang pemenang puas karena menjadi kampiun, sedangkan yang kalah puas karena kini wajahnya telah "dihiasi" tanda lambang keberanian.
Mengejutkannya lagi, permainan anggar dengan tipe seperti di atas - yang tak dapat digolongkan sebagai duel ataupun olahraga, telah bertahan di kalangan terpelajar Jerman sampai detik ini! Anggar mensur modern (yang juga dikenal sebagai anggar akademis) tak dapat digolongkan sebagai olahraga karena disini tak ada yang namanya pemenang atau pecundang. Tapi yang anehnya lagi, ia juga tak bisa disebut sebagai duel karena bukan merupakan penyelesaian akhir dari suatu masalah atau perselisihan.
Yang jelas, kemungkinan untuk terluka sangat besar dalam mensur, meskipun dengan terlukanya lawan bukan berarti pertandingan berhenti begitu saja. Saat ini, baik pemerintah Jerman maupun pihak gereja tidak lagi mengadakan larangan terhadap mensur. Gereja telah mencabutnya dari sejak tahun 1988, sedangkan pemerintah telah membatalkan larangannya lebih lama lagi, dari sejak tahun 1953. Larangan itu sendiri telah ada dari sejak tahun 1933, tahun Hitler naik ke tampuk kekuasaan.
Yang jelas, kemungkinan untuk terluka sangat besar dalam mensur, meskipun dengan terlukanya lawan bukan berarti pertandingan berhenti begitu saja. Saat ini, baik pemerintah Jerman maupun pihak gereja tidak lagi mengadakan larangan terhadap mensur. Gereja telah mencabutnya dari sejak tahun 1988, sedangkan pemerintah telah membatalkan larangannya lebih lama lagi, dari sejak tahun 1953. Larangan itu sendiri telah ada dari sejak tahun 1933, tahun Hitler naik ke tampuk kekuasaan.
Peraturan baru bagi pertandingan mensur saat ini yaitu: "...Tujuan dari mensur adalah mendorong timbulnya keberanian dan kepercayaan terhadap diri sendiri, sementara dengan kembalinya tradisi zaman pertengahan ini bukan berarti membangkitkan lagi kecenderungan reaksioner yang berbahaya, tapi hanya sekedar penghargaan kepada para leluhur".
Bagaimana dengan teknis penanganan senjata dan peraturannya? Satu hal yang bisa ditarik dari "seni" bertanding mensur adalah bahwa sampai dengan abad ke-19, pertandingan ini dijalankan dengan mobil dan tidak diam di tempat. Jarak antara kedua duelis begitu terpisahkan sehingga mereka hanya bisa saling mengenai lawannya masing-masing dengan cara menusukkan anggarnya! Setiap dari mereka memiliki hak untuk membela diri bukan dengan senjata saja, tapi juga bisa dengan jalan menghindari senjata tersebut. Duel akan terus berlanjut sampai darah pertama pada akhirnya keluar.
Pada tahun 1850 peraturan baru mensur diperkenalkan, dimana Jarak dipersempit dan permainan anggar tak lagi mobil melainkan statis. Dilarang untuk mundur atau menghindari serangan dengan menggunakan badan. Hanya anggar yang diperbolehkan untuk kegunaan menyerang dan bertahan. Seperti sebelumnya, pertandingan akan terus berlangsung sampai salah satu pihak terkena senjata dan mengeluarkan air mani eh darah. Disinilah kita bisa melihat karakteristik dari sebuah duel yang digunakan untuk menyelesaikan masalah.
Bagaimana dengan teknis penanganan senjata dan peraturannya? Satu hal yang bisa ditarik dari "seni" bertanding mensur adalah bahwa sampai dengan abad ke-19, pertandingan ini dijalankan dengan mobil dan tidak diam di tempat. Jarak antara kedua duelis begitu terpisahkan sehingga mereka hanya bisa saling mengenai lawannya masing-masing dengan cara menusukkan anggarnya! Setiap dari mereka memiliki hak untuk membela diri bukan dengan senjata saja, tapi juga bisa dengan jalan menghindari senjata tersebut. Duel akan terus berlanjut sampai darah pertama pada akhirnya keluar.
Pada tahun 1850 peraturan baru mensur diperkenalkan, dimana Jarak dipersempit dan permainan anggar tak lagi mobil melainkan statis. Dilarang untuk mundur atau menghindari serangan dengan menggunakan badan. Hanya anggar yang diperbolehkan untuk kegunaan menyerang dan bertahan. Seperti sebelumnya, pertandingan akan terus berlangsung sampai salah satu pihak terkena senjata dan mengeluarkan air mani eh darah. Disinilah kita bisa melihat karakteristik dari sebuah duel yang digunakan untuk menyelesaikan masalah.
Senjata yang digunakan oleh kedua pihak dinamakan schlager, yang secara sederhana diartikan sebagai "saber/pedang". Tapi bila kita mengartikannya secara harfiah, maka ia bisa juga dinamakan sebagai "tongkat pemukul" (yang sinonim dengan kata Jerman untuk menyebut "raket tenis"). Terjemahan modern bahasa Jerman untuk kata "saber" sendiri adalah "sabel". Bisa dibilang, schlager adalah sebuah senjata kelas kakap, yang mempunyai berat tiga kali dari pedang anggar biasa yang digunakan dalam olahraga!
Pada tahun 1890-an, diperkirakan setiap tahunnya 8.000 orang pelajar Jerman saling bertanding mensur satu sama lain. Medannya adalah di universitas itu sendiri, sementara untuk tempat latihannya, para mahasiswa ini biasa menggunakan kamar khusus di mess mereka. Meskipun mereka memakai pakaian pelindung, tapi bagian wajah (kecuali mata) tetap dibiarkan terbuka guna memberikan "kesempatan" terciptanya codet, yang sama saja dengan mentahbiskan si pelajar sebagai manusia dengan "keberanian dan kepahlawanan luar biasa", juga kemampuan untuk "menahan rasa sakit, baik secara fisik maupun emosional".
Bila ditantang, maka si pelajar diwajibkan untuk tidak mundur demi menjaga nama baik organisasi persaudaraan mahasiswa tempat dia bergabung (dinamakan dengan "Verbindungen", bisa juga "Burschenschaften" atau "Corps"). Selain itu, dia berhak untuk menantang balik siapapun yang telah melecehkan kehormatan organisasinya. Bila dia tak melakukannya, maka dia terancam untuk dikeluarkan dari organisasi tempat dia bernaung. Sanksi semacam ini juga diberlakukan kepada setiap "perlakuan tidak jantan selama berlangsungnya duel mensur".
Bagi seorang Jerman, "medali" kepahlawanan semacam itu biasanya terdapat di bagian kiri dari wajah, dimana serangan akan datang dari tangan kanan lawannya. Codet semacam ini sama statusnya dengan tato "resmi" yang saat ini diturunkan kepada generasi demi generasi dokter, juri, profesor dan pejabat Eropa, sebagai pertanda bahwa si pemilik telah masuk ke dalam jajaran komunitas elit tertentu. Motivasi lain untuk memiliki codet hasil duel semacam ini juga datang karena kepastian bahwa ia akan menjadi kejaran dari banyak gadis-gadis Jerman, sebab ia melambangkan kejantanan dan kelelakian. Bisa dibilang, jauh banget deh dengan di Indonesia yang faktor kejantanannya dilihat dari seberapa banyak ia mampu merokok (hasil dari korban iklan), padahal kita tahu sendiri bahwa semakin banyak ia merokok, semakin dekat ia pada akhir hidupnya!
Schmiß (codet hasil mensur) merupakan produk dari ego seorang lelaki, juga sama halnya dengan sebentuk perhiasan karena ia akan menjamin si pemakainya mengalami kehidupan yang bergairah di sepanjang sisa hidupnya.
Tentu saja, banyak juga para tokoh zaman Third Reich yang merupakan veteran mensur di masa mudanya, dan ini beberapa di antaranya yang terkenal:
- Reichspost minister Franz Seldte
- Hauptmann Kurt Schäfer
- Dr. Jacob 'Jay' Katz
- Gauleiter Paul Wegener
- Gauleiter Adolf Wagner
- General der Infanterie Hans Krebs (Corps "Suevia" zu Heidelberg im KSCV)
- Oberst Johannes Steinhoff
- Oberstleutnant Wilhelm Walther
- SS-Obersturmbannführer Otto Skorzeny
- SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Polizei Hermann Behrends
- SS-Gruppenführer Heinz Reinefarth
- General der Panzertruppe Dr. med. dent. Karl Mauss, Burschenschaft "Germania" Hamburg
- Oberst Dr. iur. Ernst Kupfer, Burschenschaft "Alemannia" zu Heidelberg
---------Album Foto----------
![]() |
Gauleiter Adolf Wagner dengan codet di pipi kirinya |
![]() |
Perwira Heer dengan luka codet di pipinya |
---------Album Foto----------
Sumber :
www.en.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com
www.markomannia-kl.de
www.ritterkreuztraeger-1939-45.de
www.wehrmacht-awards.com